Breaking News

2020, Kehidupan Petani Garam di Pidie dan PiJay Masih Asin

2020, Kehidupan Petani Garam di Pidie dan PiJay Masih AsinFOTO: Rusli Ismail
Petani Garam di Pidie

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net – Pertumbuhan dan kehidupan  Usaha petani garam tradisional di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya (PiJay) hingga sudah memasuki pertengahan 2020 masih sangat asinr, karana masih akan terus akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan ushanya, Penyebabnya karena belum ada regulasi maupun terobosan baru dari pemerintah dalam pengembangan sektor UKM ini.

M Hasan dan Idawati, dua petani garam di Blang Paseh, Kota Sigli dan Sukon, Simpang Tiga, Pidie, mengakui hingga kini kehidupan usaha penggaram masih sangat sulit berkembang.

Sejak lima tahun terakhir harga garam rakyat sering tak menentu dan turun drastis. Garam halus yang diproses dengan cara memasak, harga sebelumnya Rp7.000/Kg turun menjadi Rp4.500 sampai Rp5.000/Kg dan garam kasar turun dari Rp4.000 jadi Rp3.000/Kg.

Di Pidie, terdapat sekira hampir 500-an petani garam tersebar di beberapa kecamatan dan terbanyak di Desa Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Peukan Sot, Cebrek, Sukon, Kecamatan Simpang Tiga. Seluruhnya terdapat sekira 350 lancang sira yang menghasilkan garam putih sekitar 2.000 ton/tahun.

Selama ini garam produksi petani disuplai ke kota-kota dipesisir timur Aceh dan untuk keperluan industri perikanan dan es di Medan. Harga garam tradisional ini lebih murah dibanding garam impor dan garam yang dipasok dari tempat lain.

Meski harga anjlok, petani setempat tetap memproduksi garam tradisional untuk memenuhi kebutuhan. “Sudah lama petani garam Pidie mengeluhkan lesunya pasar garam rakyat. Kondisi ini semakin diperparah dengan tidak adanya penampung garam hasil usaha dapur garam (lancang sira) milik rakyat, “kata Hasan.

Petani garam lainnya, Ahmad mengatakan, tingginya biaya hidup dan biaya produksi garam tak diimbangi dengan kenaikan harga garam. Setiap kali produksi, petani membutuhkan tambahan modal. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini yang sulit dipasarkan karena tidak ada agen penampung. Sementara kalau dijual kepada agen pengecer untungnya sangat kecil paling tinggi Rp1.000 sampai Rp1.500/Kg.

Hal yang tak jauh bedanya disampaikan Saifuni, Sekretaris Desa Grong-Grong Capa, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidien Jaya, meski di daerah itu usaha penggaraman sudah mulai dilakukan dengan sistem modern lewat bantuan pemerintah. Tapi masih banyak kendala yang dihadapi para petani.

Disebutkan, perberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) yang mendapat suntikan dana dari Pemerintah Pusat melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp8 miliar pada 2019 di enam titik dalam Kabupaten Pidie Jaya dinilai gagal dan tak bermanfaat bagi masyarakat. |Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...